Apa Itu Osteopenia?

Apa Itu Osteopenia(Image courtesy of  renjith krishnan / freedigitalphotos.net)

\r\nOsteopenia mengacu pada kepadatan mineral tulang (atau Bone Mineral Density / BMD) yang lebih rendah dibandingkan puncak normal BMD tetapi tidak cukup rendah untuk dapat diklasifikasikan sebagai osteoporosis. Kepadatan mineral tulang adalah pengukuran tingkat mineral di dalam tulang, yang menunjukkan seberapa padat dan kuat tulang kita. Jika BMD Anda lebih rendah dibandingkan puncak normal BMD, maka Anda menderita osteopenia. Jika Anda menderita osteopenia, risiko kemungkinan Anda terkena osteoporosis lebih besar. Hal ini karena seiring berlalunya waktu, kadar BMD Anda mungkin menjadi sangat rendah dibandingkan kadar normal, dan kondisi ini dikenal sebagai osteoporosis.\r\n

Apa Penyebab Osteopenia ?

\r\nTulang secara alami menipis seiring bertambahnya usia seseorang. Hal ini karena sel-sel tulang pada usia pertengahan lebih cepat diserap kembali oleh tubuh dibandingkan pembuatan tulang baru. Seiring terjadinya kondisi tersebut, tulang-tulang akan kehilangan mineral, beratnya ( massa tulang), dan struktur, sehingga membuat tulang melemah dan meningkatkan risiko tulang untuk patah. Semua orang mulai kehilangan massa tulang setelah mereka mencapai puncak BMD pada sekitar usia 30 tahun. Semakin tebal tulang Anda pada usia 30 tahun, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan osteopenia atau osteoporosis.\r\n\r\nBeberapa penderita osteopenia mungkin tidak mengalami tulang keropos. Mereka mungkin saja secara alami memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah. Osteopenia mungkin juga akibat dari berbagai kondisi lain, proses perkembangan penyakit, atau pengobatan. Kaum wanita lebih mungkin mengembangkan osteopenia dan osteoporosis dibandingkan kaum pria. Hal ini karena wanita memiliki puncak BMD lebih rendah dan hilangnya massa tulang dipercepat seiring perubahan hormon yang terjadi pada saat menopause.\r\n\r\nBerikut ini hal-hal yang dapat menyebabkan osteopenia :\r\n

    \r\n
  • Gangguan makan atau masalah metabolisme yang mengakibatkan tubuh tidak dapat menyerap dan menggunakan cukup vitamin dan mineral.
  • \r\n

  • Kemoterapi, atau obat-obatan seperti steroid yang digunakan untuk mengobati sejumlah masalah medis, termasuk asma.
  • \r\n

  • Paparan radiasi
  • \r\n

\r\nJika Anda memiliki riwayat keluarga yang menderita osteoporosis, kurus, berkulit putih atau ras Asia, aktivitas fisik yang terbatas, merokok, minum minuman cola secara teratur, dan minum alkohol secara berlebihan, juga dapat meningkatkan risiko terkena osteopenia dan pada akhirnya osteoporosis .\r\n

Apa Gejala-Gejala Osteopenia ?

\r\nOsteopenia tidak memiliki gejala. Anda tidak merasakan sakit atau perubahan seiring tulang menipis, walaupun risiko tulang patah meningkat tulang seiring tulang menjadi kurang padat.\r\n

Bagaimana Mendiagnosis Osteopenia ?

\r\nOsteopenia didiagnosis dengan test kepadatan mineral tulang (BMD), yaitu test yang biasanya dilakukan untuk melihat apakah Anda menderita osteoporosis atau tidak. Test BMD yang paling akurat adalah dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA), walaupun memang ada metode lain yang dapat digunakan. DEXA adalah salah satu bentuk X – ray yang dapat mendeteksi hingga 2 % hilangnya kepadatan tulang per tahun. X-ray standar tidak berguna dalam mendiagnosis osteopenia, karena X-ray standar tidak cukup sensitif untuk mendeteksi sejumlah kecil hilangnya kepadatan tulang atau perubahan kecil dalam kepadatan tulang.\r\n\r\nSumber: WebMD

Komentar

  • (will not be published)