Dampak Merokok Terhadap Kesehatan Gigi Dan Mulut

Dampak Merokok Terhadap Kesehatan Gigi Dan Mulut(Image courtesy of Gualberto107 / freedigitalphotos.net)

Merokok menyebabkan masalah gigi, antara lain :

  • Bau mulut.
  • Perubahan warna gigi.
  • Peradangan bukaan kelenjar ludah di langit-langit mulut.
  • Meningkatnya timbunan plak dan tartar pada gigi.
  • Hilangnya tulang dalam rahang meningkat.
  • Risiko leukoplakia meningkat, yaitu bercak putih di dalam mulut.
  • Risiko penyakit gusi meningkat, yang merupakan penyebab utama hilangnya gigi.
  • Proses penyembuhan setelah pencabutan gigi, perawatan periodontal, atau bedah mulut bertambah lama.
  • Prosedur implan gigi memiliki tingkat keberhasilan yang lebih rendah.
  • Risiko kanker mulut meningkat.

Bagaimana Merokok Menyebabkan Penyakit Gusi?

Rokok dan produk tembakau lainnya dapat menyebabkan penyakit gusi karena mempengaruhi lekatan tulang dan jaringan lunak pada gigi Anda. Secara lebih spesifik, merokok tampaknya mengganggu fungsi normal dari sel-sel jaringan gusi. Gangguan tersebut membuat perokok lebih rentan terhadap infeksi, seperti penyakit periodontal, dan tampaknya juga mengganggu aliran darah ke gusi, yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka.

Apakah Pipa Rokok dan Cerutu Menyebabkan Masalah Gigi?

Ya dapat. Sama seperti rokok, cerutu dan pipa rokok dapat menyebabkan masalah kesehatan mulut. Menurut hasil penelitian panjang selama 23 tahun, yang diterbitkan dalam Journal of American Dental Association, perokok cerutu mengalami gigi keropos dan tulang alveolar keropos (yaitu keroposnya bagian tulang rahang yang menjadi jangkar gigi) dengan kecepatan yang setara dengan perokok. Perokok pipa juga memiliki risiko gigi keropos yang sama dengan perokok. Di luar risiko ini, perokok pipa dan cerutu masih beresiko terkena kanker oral dan faring (tenggorokan), walaupun jika mereka tidak menghirup rokok dan konsekuensi lainnya seperti bau mulut, gigi bernoda, dan peningkatan risiko penyakit periodontal (gusi).

Apakah Produk Tembakau Tanpa Asap Aman?

Tidak. Sama seperti cerutu dan rokok, produk tembakau tanpa asap (misalnya tembakau yang dihirup dan dikunyah) mengandung setidaknya 28 bahan kimia yang telah terbukti meningkatkan risiko kanker mulut serta kanker tenggorokan dan kerongkongan. Bahkan, mengunyah tembakau mengandung kadar nikotin lebih banyak dari rokok, sehingga menyebabkan penggunanya lebih sulit untuk berhenti. Begitu juga dengan satu kaleng tembakau yang dihirup, dapat memberikan lebih banyak nikotin lebih dari 60 rokok.

Tembakau tanpa asap dapat mengiritasi jaringan gusi Anda, menyebabkan gusi menyusut dari gigi Anda. Setelah jaringan gusi menyusut, akar gigi menjadi terbuka, sehingga dapat meningkatkan risiko gigi membusuk (tooth decay). Akar gigi yang terbuka juga lebih sensitif terhadap iritasi panas dan dingin atau lainnya, sehingga membuat makan dan minum menjadi tidak nyaman.

Selain itu, bahan gula yang sering ditambahkan untuk meningkatkan rasa tembakau tanpa asap dapat meningkatkan risiko gigi membusuk. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Dental Association menunjukkan bahwa pengguna tembakau kunyah empat kali lebih mungkin mengembangkan gigi membusuk dibandingkan yang tidak menggunakannya.

Tembakau tanpa asap juga biasanya mengandung pasir dan kerikil halus, yang dapat membuat gigi Anda aus.

Hilangkan Kebiasaan Tembakau

Tanpa melihat berapa lama Anda telah menggunakan produk tembakau, jika Anda berhenti menggunakannya sekarang, maka risiko serius bagi kesehatan Anda akan berkurang.

Sebelas tahun setelah berhenti merokok, kemungkinan mantan perokok terkena penyakit periodontal (gusi) tidak jauh berbeda dibandingkan orang-orang yang tidak pernah merokok.

Bahkan,  dengan mengurangi frekuensi Anda merokok dapat membantu menurunkan risiko terkena penyakit gusi. Satu penelitian menemukan bahwa perokok yang mengurangi kebiasaan merokok mereka menjadi kurang dari setengah bungkus sehari hanya memiliki risiko mengembangkan penyakit gusi tiga kali lebih besar dari non perokok. Angka ini secara signifikan lebih rendah dibandingkan risiko orang yang merokok lebih dari satu setengah pak per hari yaitu enam kali lebih tinggi dari non perokok.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of the Association AmericanDental menemukan bahwa penyakit mulut lesi leukoplakia dapat sepenuhnya sembuh dalam waktu 6 minggu dari 97.5% pasien pengguna produk tembakau tanpa asap berhenti menggunakan produk tersebut.

Beberapa statistik dari American Cancer Society menunjukkan beberapa alasan serius lain untuk berhenti merokok. Mereka menyatakan bahwa :

  • Sekitar 90% dari penderita kanker mulut, bibir, lidah, dan tenggorokan menggunakan tembakau, dan risiko terkena kanker ini meningkat seiring meningkatnya frekuensi merokok atau mengunyah tembakau dan lamanya merokok. Perokok memiliki kemungkinan enam kali lebih besar dibandingkan non perokok untuk mengembangkan kanker ini.
  • Sekitar 37% dari pasien yang tetap merokok setelah kanker mereka membaik, akan mengembangkan kanker kedua kalinya dari kanker mulut, bibir, lidah, dan tenggorokan. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan mereka yang berhenti merokok yaitu 6%.

Bagaimana Saya Dapat Berhenti Menggunakan Tembakau?

Untuk berhenti menggunakan tembakau, dokter gigi atau dokter mungkin dapat membantu meredakan ketagihan nikotin Anda dengan obat-obatan, seperti permen karet dan patch nikotin. Beberapa dari produk ini merupakan obat OTC, sedangkan beberapa yang lain memerlukan resep dokter. Obat lain (seperti Zyban) memerlukan resep dokter.

Kelas berhenti merokok dan kelompok pendukung sering digunakan bersamaan dengan terapi obat. Program ini ditawarkan melalui rumah sakit lokal di komunitas Anda dan kadang-kadang melalui pemberi kerja atau perusahaan asuransi kesehatan Anda. Tanyakan kepada dokter atau dokter gigi untuk informasi mengenai program-program serupa yang mungkin mereka tahu.

Obat herbal dan juga hipnosis dan akupunktur merupakan pengobatan lain yang mungkin dapat membantu Anda menghentikan kebiasaan tembakau.

Sumber: WebMD

Komentar

  • (will not be published)

 

E-Klinik E-Klinik