Deteksi Asam Urat

Deteksi Asam Urat(Image courtesy of sixninepixels / freedigitalphotos.net)

\r\nBelum ada penelitian yang membuktikan bahwa ada hubungan antara asam urat dengan rasa pegal pada tubuh.\r\n

Asam Urat Sesungguhnya

\r\nAsam urat merupakan zat hasil pemecahan dari salah satu bagian dari deoxyribonucleic acid (DNA) tubuh, purin, sebagai komponen genetik dari sel. Jumlahnya di dalam tubuh dikendalikan oleh sejumlah mekanisme, termasuk penggunaan enzim dan fungsi ginjal.\r\n\r\nProduksi tertingginya ada di permukaan usus dan hati dengan pengeluaran terbanyaknya dari tubuh dilakukan oleh ginjal. Tentunya, pengendapannya akan terjadi pada jumlah yang berlebihan. Kadar normal asam urat pada pria adalah 2.5-8 mg/dl, sedangkan pada wanita cukup 1.9-7.5 mg/dl. Ada pun pada anak-anak, rentang normalnya sangatlah sempit: 3-4 mg/dl. Kadar asam urat pria pada dasarnya memang meningkat saat memasuki usia pubertas, sedangkan kadarnya relatif stabil dan rendah pada wanita sebelum menopause.\r\n\r\nProduksi asam urat setelah melalui pengolahan oleh enzim bernama xantine oxidase dapat meningkat pula pada para pecandu alkohol, daging, dan makanan laut, tetapi temuan sebaliknya ada pada konsumsi produk susu. Enzim tersebut terletak pada banyak sel dan memang ditujukan untuk menghasilkan asam urat sebagai bentuk komponen sel yang dapat dibuang oleh tubuh. Permasalahannya adalah letak-letak pengendapan produk buangan tersebut jika tubuh Anda terlampau lama kekurangan cairan.\r\n\r\nBerbeda dengan lemak yang pada umumnya mengendap di pembuluh darah saja, asam urat dapat mengendap pada permukaan sendi, isi dari ginjal dan saluran kemih meski terdapat temuan secara molekuler bahwa asam urat dapat melekat pada lapisan pembuluh darah. Bervariasinya tempat pengendapan asam urat tersebut memunculkan berbagai gejala yang berbeda. Umumnya, asam urat lebih banyak menimbulkan batu ginjal atau gejala rematik. Temuan lain yang ditunjukkan oleh tingginya asam urat adalah gagal ginjal, diet tinggi protein, kelainan metabolik, kelainan darah, hipotiroid, dan darah yang terlalu bersifat asam.\r\n

Mengenali Rasa Pegal

\r\nRasa pegal biasanya disebabkan oleh adanya ketegangan otot akibat beban yang diberikan pada tubuh dalam waktu yang lama. Asam laktat yang diproduksi oleh sel yang bekerja tanpa oksigen sebagai imbas durasi dan beban kerja otot yang berlebihan tersebut menyebabkan darah berada dalam keadaan asam sehingga mengurangi efektivitas kerja tubuh. Kelelahan dan pegal-pegal tersebut merupakan salah satu cirinya saja. Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwa gejala pegal-pegal saja tidak dapat dianggap sebagai masalah sepele. Terkadang, pegal-pegal tersebut menunjukkan adanya kerusakan otot serius yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi ginjal. Ada pula penyakit dengan gejala pegal-pegal dalam waktu lama dan meliputi banyak otot di kedua sisi tubuh, dari atas hingga di bawah pinggang (disebut fibromyalgia).\r\n\r\nRasa pegal-pegal dapat diakibatkan oleh efek samping pengobatan, kekurangan enzim tertentu (terutama jika timbul sesudah beraktivitas berat dan dialami dalam waktu lama), infeksi, gangguan elektrolit, atau kekurangan vitamin. Kasus yang lebih serius, seperti kelainan hormon dan gangguan saraf yang lebih serius, patut pula dipertimbangkan. Temuan gangguan enzim dalam mengolah bahan makanan otot untuk menjadi energi menjadi mekanisme bagaimana rasa pegal-pegal tersebut dapat terjadi.\r\n\r\nGangguan elektrolit berhubungan dengan masalah saraf serta pergerakan antar sel otot tersebut untuk melakukan aktivitas tubuh. Ketika ketidakseimbangan elektrolit terjadi, aliran elektrolit berkurang atau, dalam keadaan terburuk, terhenti di dalam saraf maupun otot dan mengakibatkan tidak terjadinya pergerakan antar serat otot sehingga muncul rasa pegal.\r\n\r\nMekanisme yang berbeda ditemukan pada kasus infeksi, saraf, dan hormon. Pada infeksi, reaksi peradangan secara menyeluruh disertai adanya beberapa zat tersebut yang berimbas pada kerja otot menjadi dasar bagaimana terjadinya rasa pegal. Selain itu, pemecahan protein otot akibat reaksi radang tersebut juga menjadikan rasa pegal terasa pada pasien. Kepentingannya adalah kebutuhan pembentukan respon imunitas dengan bahan dasar protein, sehingga pemecahan sel otot merupakan hal yang wajar terjadi, tetapi tidak boleh berlangsung terlalu lama. Pasien dengan cedera tulang belakang, penyakit Parkinson, hingga penekanan pada saraf menjadi diagnosis yang akan dipikirkan dokter terkait dengan masalah saraf. Gangguan hormon yang dapat menimbulkan gejala pegal, mencakup kencing manis dan tiroid, turut serta menimbulkan rasa pegal secara tidak langsung melalui gangguan pembentukan energi, saraf, dan pengendalian kadar elektrolit.\r\n\r\nSumber:\r\n

    \r\n
  1. Hellsten Y, et al. Xantine oxidase in skeletal muscle following eccentric exercise: a role in inflammation. 1997.
  2. \r\n

  3. New Medical Information and Health Information. Myalgia and myositis. 2011. Tersedia di: http://www.nmihi.com/m/myalgia.htm.
  4. \r\n

  5. Gomez-Cabrera MC, et al. Effect of xanthine oxidase-generated extracellular superoxide on skeletal muscle force generation. 2010.
  6. \r\n

  7. Haq I, et al. Myalgia with lymphadenopathy. 2001.
  8. \r\n

  9. Gill JM, Quisel A. Fibromyalgia and diffuse myalgia. 2005.
  10. \r\n

  11. Choi HK, Liu S, Curhan G. Intake of purine-rich foods, protein, and dairy products and relationship to serum levels of uric acid. 2005.
  12. \r\n

  13. Baker SK, Tarnopolsky MA. Statin myopathies: pathophysiologic and clinical perspectives. 2001.
  14. \r\n

\r\nTeks: Naldo Sofian

Komentar

  • (will not be published)