Diagnosis Autisme

Diagnosis Autisme(Image courtesy of phasinphoto / freedigitalphotos.net)

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak-anak di-skrining untuk autisme pada saat pemeriksaan kesehatan rutin. Kebijakan ini membantu dokter untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal autisme lebih dini. Diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu anak mencapai potensi penuh diri mereka.

Ketika terlihat ada keterlambatan dalam perkembangan anak, maka pengujian lebih lanjut dapat membantu dokter untuk mengetahui apakah masalah tersebut terkait dengan autisme, atau pervasive developmental disorder lain (PDD), atau kondisi lain dengan gejala yang sama, seperti keterlambatan bicara atau avoidant personality disorder. Jika penyedia kesehatan Anda tidak memiliki pelatihan atau pengalaman khusus dalam masalah perkembangan anak, maka mereka dapat merujuk ke dokter spesialis, seperti dokter perkembangan anak, psikiater, ahli terapi bicara, psikolog, atau psikiater anak untuk pengujian tambahan.

  • Penilaian perilaku. Bermacam pedoman dan kuesioner digunakan untuk membantu dokter menentukan jenis spesifik dari keterlambatan perkembangan yang dialami oleh anak. Hal ini antara lain:
    • Sejarah medis. Selama wawancara riwayat kesehatan, dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan umum mengenai perkembangan anak, seperti apakah anak menunjukkan benda-benda ke orang tua dengan menunjuk objeknya. Anak-anak dengan autisme sering menunjuk barang yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak menunjuk benda tersebut ke orang tua dan memastikan apakah orangtua melihat barang yang ditunjuk tersebut.
    • Pedoman diagnostik untuk autisme. American Association of Childhood and Adolescent Psychiatry (AACAP) telah menetapkan pedoman diagnosis autisme. Kriteria ini dirancang agar dokter dapat menilai perilaku anak yang berkaitan dengan gejala inti autisme.
    • Pengamatan klinis. Dokter mungkin ingin mengamati keterlambatan perkembangan anak dalam situasi yang berbeda. Orang tua mungkin akan diminta untuk menafsirkan apakah perilaku tertentu umum bagi anak dalam situasi tersebut.
    • Tes perkembangan dan kecerdasan. AACAP juga merekomendasikan tes ini untuk mengevaluasi apakah keterlambatan perkembangan anak mempengaruhi kemampuannya untuk berpikir dan membuat keputusan.
  • Penilaian fisik dan tes laboratorium. Tes-tes lain dapat digunakan untuk menentukan apakah ada masalah fisik yang menyebabkan gejala anak. Tes ini antara lain:
    • Pemeriksaan fisik, termasuk lingkar kepala, berat badan, dan pengukuran tinggi badan, untuk menentukan apakah anak memiliki pola pertumbuhan normal.
    • Tes pendengaran, untuk menentukan apakah ada masalah pendengaran yang dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, khususnya yang berkaitan dengan keterampilan sosial dan penggunaan bahasa.
    • Pengujian untuk keracunan timbal, terutama jika ada kondisi yang disebut pica (dimana seseorang sangat menginginkan zat-zat yang bukan makanan, seperti kotoran atau flek dari cat lama). Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan biasanya terus memasukkan benda-benda ke dalam mulut mereka setelah tahap ini biasanya dilalui pada perkembangan normal anak. Tindakan anak yang memasukkan benda-benda ke dalam mulut itu dapat mengakibatkan keracunan timbal, sehingga harus segera diidentifikasi dan diobati secepat mungkin.

Tes laboratorium lain dapat dilakukan dalam keadaan tertentu. Tes ini meliputi:

  • Analisis kromosom. Analisis ini dapat dilakukan jika ada cacat intelektual atau ada riwayat cacat intelektual dalam keluarga. Sebagai contoh: fragile x syndrome, yang menyebabkan intelektual dibawah normal serta perilaku seperti autistik, dan hal ini dapat diidentifikasi dengan analisis kromosom.
  • Electroencephalograph (EEG). Tes ini dilakukan jika ada gejala kejang, seperti tatapan kosong atau jika seseorang kembali ke perilaku kurang matang (regresi perkembangan).
  • MRI. Tes ini dapat dilakukan jika ada tanda-tanda perbedaan dalam struktur otak.

Deteksi Dini

Semua dokter yang memeriksa bayi dan anak-anak pada pemeriksaan rutin anak, sebaiknya memperhatikan tanda-tanda awal gangguan perkembangan. Alat skrining perkembangan, seperti Ages and Stages Questionnaire atau Modified Checklist for Autism di Balita (M-CHAT) dapat membantu menilai perilaku anak.

Jika dokter menemukan tanda-tanda keterlambatan perkembangan yang jelas, maka anak harus segera dievaluasi, antara lain:

  • Tidak mengoceh, menunjuk, atau gerakan-gerakan lain hingga usia 12 bulan.
  • Tidak ada kata tunggal hingga usia 16 bulan
  • Tidak ada frase spontan dengan 2 kata hingga usia 24 bulan,  tidak termasuk frase yang diucapkan berulang-ulang (echolalia)
  • Hilangnya bahasa atau keterampilan sosial anak pada usia berapa pun

Jika tidak ada tanda-tanda keterlambatan perkembangan yang jelas atau indikasi yang tidak biasa dari tes skrining, maka sebagian besar bayi dan anak-anak tidak perlu evaluasi lebih lanjut hingga pemeriksaan rutin berikutnya.

Namun anak-anak yang memiliki saudara dengan autisme harus terus dipantau secara ketat, karena risiko mereka untuk autis dan masalah perkembangan lainnya meningkat.

Ketika ada berkembang masalah sosialisasi, pembelajaran, atau perilaku dalam diri seseorang pada usia berapa pun, maka dia harus dievaluasi juga.

Sumber: WebMD

Komentar

  • (will not be published)

 

E-Klinik E-Klinik