Meringankan Sakit PMS dengan Makanan Kaya Zat Besi

Jutaan wanita mengetahui rasa sakit dan pergolakan emosional dari sindrom pramenstruasi, atau PMS. Namun penelitian baru menemukan bahwa diet kaya zat besi dari sumber nabati bisa membantu meringankan kondisi tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi makanan kaya zat besi memiliki kemungkinan sepertiga lebih kecil untuk terkena PMS dibandingkan wanita yang kurang mengkonsumsi zat besi. Sumber zat besi yang termasuk bukan daging yaitu kacang kering dan sayuran berdaun hijau.

Penelitian juga menemukan bahwa mineral lain juga membuat perbedaan. Tingginya kadar Zinc juga dikaitkan dengan kurangnya PMS selama masa penelitian 10 tahun. Zinc terkandung pada banyak buah-buahan dan sayuran segar.

“Hal itu memperlihatkan bahwa berbagai mineral penting bagi kesehatan siklus menstruasi dan PMS. Wanita sebaiknya mengkonsumsi pola makan yang seimbang,. Dan jika mereka tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dari pola makan mereka, maka mereka sebaiknya mengkonsumsi multivitamin,” menurut saran penulis peneliti senior, Elizabeth Bertone-Johnson, seorang profesor di University of Massachusetts Amherst.

Bertone-Johnson mengatakan para peneliti belum tahu dengan pasti mengapa zat besi mungkin berhubungan dengan berkurangnya sakit PMS, karena zat besi terlibat dalam banyak proses di dalam tubuh kita. Para peneliti berpikir kadar zat besi yang tinggi dapat mengurangi rasa sakit dan gejala emosional PMS dengan meningkatkan kadar zat kimia otak yang disebut serotonin. Tingkat serotonin yang rendah berperan dalam depresi klinis, dan Bertone-Johnson mengatakan bahwa serotonin telah dikaitkan dengan gejala PMS dalam penelitian lainnya.

Seperti halnya dengan zat besi, Bertone-Johnson mengatakan belum jelas bagaimana kadar Zinc yang lebih tinggi dapat melindungi dari PMS.

Hasil penelitian tersebut diterbitkan online pada tanggal 26 Februari di American Journal of Epidemiology.

PMS mempengaruhi antara 8 sampai 15 persen wanita di masa reproduktif mereka, berdasarkan informasi latar belakang penelitian. Gejala PMS dapat bersifat fisik atau emosional, dan mungkin termasuk nyeri payudara, perut kembung, perubahan nafsu makan, depresi dan kecemasan.

Penelitian saat ini diikuti sekitar 3.000 perempuan yang terdaftar dalam Nurses ‘Health Study II di Amerika Serikat. Tidak ada satu wanita pun yang melaporkan mengalami PMS pada awal penelitian.

Selama 10 tahun, para wanita menyelesaikan tiga kuesioner asupan makanan. Pada akhir penelitian, 1.057 wanita melaporkan PMS, sedangkan 1.968 sisanya tidak melaporkan PMS.

Setelah menyesuaikan data untuk asupan kalsium dan faktor-faktor lainnya, para peneliti menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi paling banyak zat besi non-heme memiliki kemungkinan risiko PMS hingga 40 persen lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang sedikit mengkonsumsi zat besi non-heme. Zat besi non-heme adalah zat besi yang berasal dari sumber nabati atau suplemen, jadi bukan berasal dari daging.

Risiko terkena PMS menurun signifikan bagi perempuan yang mengkonsumsi lebih dari 20 miligram (mg) zat besi setiap hari. Risiko terendah terlihat pada wanita yang mengkonsumsi hampir 50 mg zat besi setiap hari. Namun, asupan harian yang direkomendasikan untuk wanita premenopause adalah 18 mg per hari, menurut Bertone-Johnson.

Sedangkan untuk Zinc, dapat terlihat juga sedikit efek perlindungan bagi perempuan yang mengkonsumsi lebih dari 10 mg sehari.

Tapi, Bertone-Johnson juga memperingatkan, kedua mineral tersebut dapat berbahaya jika dikonsumsi diatas kadar normal.

Para peneliti menemukan bahwa kadar potasium lebih tinggi dikaitkan dengan kadar risiko PMS yang lebih tinggi, meskipun Bertone-Johnson juga mengatakan temuan ini dan temuan lain dari penelitian tersebut perlu dikonfirmasi dengan penelitian lain. Menariknya, para peneliti tidak menemukan hubungan diantara sodium, yang dapat membuat Anda menahan air, dan PMS.

“PMS mungkin banyak faktor, dan mungkin penyebabnya lebih rumit dari sekedar  kekurangan satu atau dua suplemen atau kekurangan mineral,” kata Dr. Fredric Moon, direktur medis kebidanan umum dan ginekologi di Winthrop University Hospital di Mineola, New York.

Dr. Moon menyarankan wanita untuk memeriksakan diri dengan dokter mereka sebelum memulai jenis suplemen apapun. Kadar zat besi dapat diperiksa dengan tes darah sederhana, katanya.

Ahli klinis gizi Samantha Heller, di Pusat NYU untuk Perawatan otot, menyetujui hal diatas. “Sangat penting untuk berbicara dengan dokter Anda sebelum konsumsi suplemen mineral,” katanya. “Terlalu banyak zat besi dapat menyebabkan masalah serius, dan konsumsi suplemen dengan sesuatu seperti zinc dapat mengganggu keseimbangan zat tembaga Anda. Terdapat keseimbangan yang kompleks dalam tubuh kita, dan perempuan harus sangat bijaksana sebelum mereka mulai menggunakan suplemen..”

Heller menjelaskan bahwa sangat sulit untuk mengatur efek dari satu nutrisi tertentu. Tapi, dia menambahkan, “Jika seorang wanita ingin beralih ke pola makan yang lebih nabati, maka hal itu dapat berkontribusi secara keseluruhan untuk mengurangi stres oksidatif dan peradangan, yang mungkin dapat membantu mengurangi gejala PMS, penyakit jantung dan kondisi lain.”

Sumber: WebMD

Komentar

  • (will not be published)

 

E-Klinik E-Klinik