Migrain dan Diet

Migrain dan Diet(Image courtesy of Just2shutter / freedigitalphotos.net)

Apa Itu Migrain ?

Sakit migrain sering digambarkan sebagai rasa sakit berdenyut yang parah di satu bagian kepala. Sakit migrain ini sering disertai dengan kepekaan terhadap cahaya dan suara, mual, dan muntah.

Pada beberapa orang, gangguan penglihatan yang muncul seperti lampu berkedip, garis-garis zig -zag, atau kehilangan penglihatan sementara sebelum terjadi migrain. Gejala ini disebut migrain aura.

Kemungkinan sakit migrain pada wanita lebih besar tiga kali lipat dibandingkan pria. Menurut National Institute of Neurological Disorder and Stroke, awalnya migrain dikaitkan dengan pelebaran dan penyempitan pembuluh darah di kepala. Namun sekarang, para ilmuwan percaya bahwa migrain disebabkan oleh kelainan turunan dari gen yang mengendalikan kegiatan dalam populasi sel tertentu di otak .

Apa Hubungan Antara Migrain dan Diet?

Walaupun pembatasan diet/pola makan tidak dianggap sebagai pengobatan sakit migrain, namun dengan mengidentifikasi makanan yang memicu gejala migrain dan kemudian menghindari makanan tersebut, mungkin membantu beberapa orang mencegah serangan migrain.

Menurut laporan J Gordon Millichap, MD, yang diterbitkan dalam jurnal Pediatric Neurology, daftar makanan, minuman, dan aditif yang diduga memicu atau memperburuk gejala migrain pada beberapa orang antara lain:

  • Keju,
  • Coklat,
  • Buah jeruk,
  • Hot dogs,
  • Monosodium glutamat,
  • Aspartame,
  • Makanan berlemak,
  • Es krim,
  • Caffeine withdrawal
  • Minuman beralkohol, terutama anggur merah dan bir.

Monosodium glutamat (MSG) kadang-kadang digunakan sebagai penyedap rasa di restoran-restoran. MSG juga ditemukan dalam sup komersial, kecap, salad dressing, makanan beku, campuran sup, crouton, dan beberapa kentang. MSG dapat ditulis dengan nama lain pada label makanan seperti sodium caseinate, protein hidrolisat, atau autolyzed yeast.

Dari survei-survei yang dipublikasikan, ditemukan bahwa makanan pemicu migrain yang paling sering dilaporkan adalah keju, coklat, alkohol, pisang, dan buah jeruk.

Pada survei terhadap 429 penderita migrain, 16.5% melaporkan migrain dipicu oleh keju atau cokelat, 28.4% melaporkan sensitivitas terhadap semua minuman beralkohol, 11.8 % sensitif terhadap anggur merah tapi tidak anggur putih, dan 28 % sensitif terhadap bir.

Sedangkan survei lain dari 490 penderita migrain yang diterbitkan dalam jurnal Cephalgia, menemukan bahwa makanan pemicu paling umum adalah coklat, keju (18%), jeruk (11%) dan alkohol (29%).

Makanan pemicu mungkin menyebabkan migrain dengan mempengaruhi pelepasan serotonin yang menyebabkan penyempitan dan pelebaran pembuluh darah, atau secara langsung merangsang bagian otak seperti trigeminal ganglia, batang otak, dan jalur saraf.

Menurut Millichap, bahan kimia tertentu dalam makanan yang disebut amina, seperti tyramine , phenylethylamine, dan histamin sering kali menjadi penyebabnya.

Tyramine ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada makanan yang telah difermentasi, seperti:

  • Keju biru atau keju yang sudah berumur,
  • Yogurt,
  • Rokok, acar daging atau ikan,
  • Anggur merah atau bir,
  • Kecap, miso, tempe.

Makanan yang mengandung phenylethylamine antara lain:

  • Cheesecake,
  • Keju kuning,
  • Coklat,
  • Buah jeruk,
  • Cocoa,
  • Kue dengan isi berry atau berry kaleng,
  • Anggur merah.

Sedangkan makanan yang mengandung histamin antara lain:

  • Pisang,
  • Daging sapi, babi,
  • Bir,
  • Keju, terutama yang kuning matang,
  • Hati ayam,
  • Terong,
  • Ikan, kerang,
  • Daging olahan seperti daging asap (salami),
  • Asinan kubis,
  • Tempe, tahu, miso, tamari,
  • Bayam,
  • Stroberi,
  • Tomat, saus tomat, pasta tomat
  • Anggur,
  • Ragi dan makanan yang mengandung ragi,
  • Nanas,
  • Buah jeruk,
  • Coklat.

Namun, hasil dari dua penelitian yang dirancang dengan baik, tidak menemukan efek tyramine terhadap migrain.

Penelitian lain dari 39 anak-anak menemukan bahwa mengurangi makanan yang mengandung amina tidak berpengaruh terhadap migrain. Hal ini karena, anak-anak yang melakukan diet rendah amina dan diet serat tinggi serta anak-anak yang melakukan diet serat tinggi mengalami penurunan jumlah migrain yang signifikan dan tidak ada perbedaan yang signifikan diantara kedua kelompok tersebut.

Haruskah Saya Melakukan Diet Migrain ?

Jika Anda berpikir makanan mungkin memperburuk gejala migrain Anda, maka langkah pertama Anda adalah konsultasikan dengan dokter Anda.

Diet bukanlah pengobatan migrain, namun bagi sebagian orang, menghindari makanan tertentu dapat membantu mencegah serangan migrain.

Tidak disarankan menghindari  atau menghilangkan semua makanan pemicu migrain karena banyaknya pemicu migrain. Alasan lainnya adalah jika semua dihilangkan, maka kebanyakan orang akan merawa dietnya terlalu ketat dan sulit dilakukan.

Sebaiknya kita mempunyai buku harian diet yang dapat membantu mengidentifikasi makanan pemicu. Buku harian diet ini harus mencatat semua makanan yang dimakan setiap harinya serta perkiraan waktu makan. Setiap gejala yang muncul harus dicatat. Jika makanan pemicu migrain ditemukan, maka dengan menghindari makanan pemicu tersebut dapat membantu mengatasi migrain.

Pada beberapa orang, tidak/telat makan bisa menjadi pemicu migrain. Jadi sering disarankan agar makan dengan teratur dengan  makanan yang seimbang.

Sumber: altmedicine.about.com

2 Komentar untuk “Migrain dan Diet”

  1. Adie

    Met malam dokter,
    Saya sudah 1bulan lebih sakit kepala sebelah kanan,rasanya seperti di cucuk2,rasa sakit yg di sertai keluarnya air mata di sblah kanan,,saya jg sdh periksakan ke dokter,cek darah jg sudah,dan hasilnya jg tdk ada masalah.
    Menurut dokter sakit kepala sebelah saya ini apkah penyakit migrain atau ada penyebab lainnya.

    Reply
    • admin

      Selamat Sore,

      Terima kasih sudah mengunjungi Dokita.
      Dari data yang disampaikan, gejalanya memang mirip migrain yang dipicu oleh stres, kecapaian dan sebagainya. Coba baca artikel Dokita: http://dokita.co/blog/sakit-kepala-dan-gejalanya/
      Namun tetap perlu cermati apakah ada pemicu lain, seperti kelainan mata (visus, glaukoma). Kalau gejala makin parah, mungkin ada kelainan di dalam kepala (misal tumor otak). Kami sarankan sebaiknya periksa ke dokter spesialis saraf untuk evaluasi dan kalau oerlu rujuk ke dokter spesialis Mata.

      Maaf, untuk tanya jawab kesehatan Dokita selanjutnya, akan dijawab melalui aplikasi Android kami. Mohon dapat di unduh dan registrasi untuk mengirim pertanyaan di: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.andtechnology.dokterkita
      Terima kasih

      Salam Sehat Selalu,

      Tim Dokita.
      Jangan lupa untuk berbelanja sehat di store kami http://www.dokita.co/store

      Reply

Komentar

  • (will not be published)

 

E-Klinik E-Klinik