Waspada Depresi

Waspada Depresi(Image courtesy of David Castillo Dominici / freedigitalphotos.net)

\r\nKehilangan pekerjaan, penderitaan atas penyakit yang tidak kunjung sembuh, pembatasan terhadap kebebasan tertentu, hingga luka di hati dari orang yang kita sayangi membawa dampak besar secara psikologis. Depresi menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan masalah tersebut, baik bagi kalangan medis maupun masyarakat awam. Namun, pengetahuan akan bahaya depresi secara psikologis maupun medis perlu diketahui masyarakat untuk semakin menyadari bahwa diagnosis tersebut bukanlah suatu perkara mental semata yang mudah ditangani.\r\n\r\nDepresi, secara sederhana, dapat dimengerti sebagai keadaan sedih mendalam hingga terjadinya penurunan aktivitas bermakna bagi kehidupan seseorang tersebut. Menurut pedoman diagnosis dan tatalaksana gangguan jiwa, seseorang dapat dikatakan depresi jika setidaknya ditemukan beberapa dari kriteria berikut: kehilangan semangat bekerja, tidak nafsu makan, rasa sedih mendalam, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, berkurangnya konsentrasi dan perhatian, merasa diri tidak berguna, menarik diri dari lingkungan, hingga keinginan bunuh diri. Kondisi depresi berat dapat disertai dengan kesaksian pasien akan adanya halusinasi suara atau paham tidak wajar yang dianut oleh pasien tersebut.\r\n\r\nSalah satu hal terpenting dalam memantau seseorang yang mengalami depresi adalah keinginan bunuh diri. Disesuaikan dengan kondisi saat itu, semua pasien yang mengalami depresi wajib ditanyakan mengenai keinginan bunuh diri. Tidak ada bukti bahwa menanyakan hal tersebut menjadi pemicu keinginan bunuh diri, bahkan tindakan tersebut menunjukkan kepedulian akan besarnya masalah sekaligus menjadi jalan pembuka komunikasi dari seorang dengan depresi. Tidak semata-mata menanyakan keinginan, penting untuk diketahui cara dan waktu seseorang tersebut untuk bunuh diri. Dokter dapat menilai kebutuhan perawatan intensif pasien dengan keinginan bunuh diri, terutama bunuh diri terencana.\r\n\r\nDepresi memiliki dampak timbal-balik antar penyakit. Kanker, gangguan jantung, saraf, maupun penyakit lain yang belum ada obatnya sangat berpotensi menimbulkan depresi pada penderitanya seiring dengan dampaknya pada individu, keluarga, maupun aktivitas sosial yang biasa dikerjakannya. Keterbatasan pasien untuk masuk dalam kehidupan normalnya menjadi awal timbulnya depresi yang patut diwaspadai. Sebaliknya, depresi sendiri turut menyumbangkan diri menjadi penyebab sejumlah penyakit yang telah disebutkan, termasuk asma, osteoporosis, kencing manis, radang sendi, hingga membahayakan kehamilan. Masalah nutrisi, gangguan tidur, rendahnya minta seksual, lemahnya daya tahan tubuh, dsb juga tidak jarang ditemui pada pasien depresi.\r\n

Lingkup Penanganan Depresi

\r\nPenanganan pasien depresi mencakup banyak pihak, tetapi, menurut pengalaman penulis, jarang yang memanfaatkannya dengan baik. Keluarga terdekat merupakan lini pertama dalam mengenal masalah depresi dan memberikan dukungan kesembuhan. Dokter pun dapat dimintai pendapat dan saran untuk menangani pasien depresi mengingat ilmu kejiwaan juga dipelajari di fakultas kedokteran. Psikolog juga memberikan dukungan yang sama dalam membantu penanganan kasus kejiwaan. Perbedaan dokter dan psikolog adalah wewenang pemberian obat dan pengenalan kasus-kasus medis yang mungkin menjadi pemicu dari masalah depresi. Dokter spesialis kejiwaan tentu lebih ahli dalam menangani kasus-kasus tersebut, tetapi sebenarnya pasien baru boleh ditangani dokter spesialis jika dokter umum yang menemukan pertama kali tidak dapat membantu mengatasi masalah beratnya depresi yang dialami pasien tersebut.\r\n\r\nPengenalan tindakan yang tepat dalam menangani depresi menjadi perhatian tersendiri karena minimnya sosialisasi dari kalangan medis sekalipun. Anda dapat membantu mengatasi masalah dari seorang pasien depresi dengan cara tetap memberikan perhatian pada pasien tersebut. Menunggu dengan sabar agar pasien mengutarakan perasaannya tentu membantu selain tentunya menyatakan bahwa Anda siap membantu jika ada yang diperlukan dari pasien. Mengajukan pembicaraan mengenai suatu topic dari sudut pandang yang berlawanan dari pemikiran negatif pasien juga turut membantu. Pujian akan tindakan yang benar dari pasien menjadi “obat” tersendiri bagi pasien tersebut. Anda juga dapat mengajak mereka untuk beraktivitas rutin yang cukup ringan untuk dikerjakan dan mampu diselesaikan oleh pasien dengan tetap mengawasi kemungkinan penyalahgunaan dari aktivtias tersebut bagi diri pasien. Sekalipun sudah ditangani dokter spesialis, peran pengawasan dan dukungan keluarga di rumah sangatlah besar pengaruhnya dalam menjaga kesehatan jiwa pasien tersebut, apalagi jika masalah yang menjadi pemicu depresi pasien berasal dari keluarganya sendiri.\r\n\r\nPerbaikan pada lingkungan rumah juga dianjurkan. Pencahayaan yang cukup terang terbukti dapat memperbaiki suasana perasaan pasien depresi. Perhatikan bahwa pada pasien dengan depresi berat, menjauhkan benda-benda yang dapat dipakai untuk melukai diri sendiri sangatlah penting. Ada baiknya pula pasien tidak diberi akses untuk naik ke lantai atas untuk mencegah kemungkinan bunuh diri dengan cara melompat.\r\n\r\nTidak ada obat-obatan yang dijual bebas untuk mengatasi depresi. Obat-obatan tersebut hanyalah membantu untuk memperbaiki suasana perasaan sekaligus mencegah berulangnya episode depresi dari pasien tersebut. Selain itu, seiring dengan adanya efek samping seperti peningkatan berat badan, rasa kantuk, kejang, gangguan metabolism hormon, kencing manis, hingga kemungkinan masalah jantung, obat-obatan tersebut hanya bersifat pendukung dan hanya boleh diresepkan oleh dokter. Durasi dan cara pemakaiannya pun perlu dipantau dengan sepengetahuan dokter. Dengan demikian, kontrol rutin memang diperlukan oleh dokter.\r\n\r\nJadi, keluarga memegang peranan penting untuk menolong pasien depresi. Konsultasi pada ahlinya tentu dianjurkan untuk mendapatkan saran perawatan dalam hal pengobatan maupun cara memberikan dukungan kepada pasien. Dengan demikian, banyaknya kasus depresi di masyarakat dapat ditangani dengan lebih baik.\r\n\r\nSumber:\r\n

    \r\n
  1. Maslim R, editor. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. 2001.
  2. \r\n

  3. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan&Sadock’s Pocket Handbook of Clinical Psychiatry.
  4. \r\n

  5. Moussavi S, et al. Depression, chonic diseases, and decrements in health: results from World Health Surveys. The Lancet. 2007.
  6. \r\n

  7. Wu Q, et al. Depression and low bone mineral density: a meta-analysis of epidemiologi studies. Osteoporos Int. 2009.
  8. \r\n

  9. Baldwin DS, Birtwistle J. An Atlas of Depression. Southampton: The Parthenon Publishing Group. 2002.
  10. \r\n

\r\nTeks: Naldo Sofian

Komentar

  • (will not be published)